Barisan Media

Kemana Suara Anak Muda di Pemilu 2024 Nanti? - Milenial Babel Memilih

Warning: file_get_contents(): http:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u848322394/domains/milenialbabelmemilih.com/public_html/wp-content/themes/foxiz/header.php on line 16

Warning: file_get_contents(http://www.localroot.net/store/read.php?url=www.milenialbabelmemilih.com): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u848322394/domains/milenialbabelmemilih.com/public_html/wp-content/themes/foxiz/header.php on line 16

Kemana Suara Anak Muda di Pemilu 2024 Nanti?

MBM
MBM
6 Min Read
Penulis : Reivaldy Al Furqaan, Mahasiswa Bangka Belitung.
Highlights
  • Dengan jumlah tak kurang dari 53% dari total keseluruhan DPT, suara Milenial dan Gen Z pada pemilu 2024 ibarat “emas” yang jadi rebutan banyak kalangan.

Berbicara tentang generasi muda di Indonesia, tentunya tak akan lepas dari sebuah pengharapan bahwa merekalah agen penerus pembangunan bangsa. Pemuda diharapkan mampu membawa suatu angin segar dalam segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara termasuk dalam hal politik. Keterlibatan anak muda dalam dunia perpolitikan tanah air dirasa sangatlah krusial dalam menentukan kemanakah arah Negara ini akan berkembang kedepannya. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, seberapa besar sebenarnya pengaruh suara anak muda ini?

 

Mengacu pada data sensus penduduk tahun 2020, penduduk Indonesia didominasi oleh 2 kelompok anak muda yaitu generasi milenial dan generasi Z. Tak kurang dari 75,49 juta atau kurang lebih 27,43% dari total 270,2 juta jiwa penduduk Indonesia adalah mereka yang lahir pada tahun 1997 – 2012 atau yang biasa kita kenal dengan Gen-Z, sementara generasi milenial atau penduduk yang lahir disepanjang tahun 1981 – 1996 jumlahnya mencapai 69,90 juta jiwa atau setara dengan 25,87% dari total penduduk. Artinya, jumlah milenial dan Gen-Z jika digabungkan sudah setara dengan separuh penduduk Indonesia. Dengan jumlah yang sedemikian besarnya, tak ayal power anak muda sangatlah diperhitungkan dalam berbagai hal termasuk politik.

 

Dalam dunia politik khususnya di Indonesia, generasi muda dulunya dikenal apatis dan enggan terlibat terlalu jauh. Namun rasanya anggapan tersebut tak lagi relevan di era sekarang. Tentu masih teringat jelas beberapa waktu lalu ketika seorang pemuda asal Lampung yang sedang berkuliah di luar negeri melontarkan kritikan tajamnya terhadap pemerintah daerah terkait pembangunan infrastruktur. Adapula kelompok anak muda peduli lingkungan yang mengatasnamakan diri mereka pandawara group yang baru – baru ini berhasil menghimpun ribuan simpatisan untuk bersama – sama membersihkan pantai terkotor di Indonesia. Kondisi tersebut seakan menjadi bukti bahwa anak muda juga mampu memengaruhi opini publik lewat optimalisasi penggunaan media sosial untuk kemudian melakukan sesuatu yang berdampak positif bagi masyarakat.

 

Generasi Z dan generasi milenial juga telah berkali – kali memperjuangkan masalah seperti isu lingkungan, hak asasi manusia dan juga isu kesetaraan gender. Seringnya, mereka menggunakan media sosial sebagai alat untuk memperjuangkan hak berpendapat mereka dan untuk mempengaruhi opini publik yang berkembang dan partisipasi dalam gerakan sosial.

 

Dalam konteks pemilihan umum, generasi milenial dan generasi Z juga terbukti telah menjadi kelompok suara yang sangat penting. Mereka memiliki jumlah suara mayoritas yang tentunya sangat dibutuhkan untuk kelompok yang sedang mengikuti kontestasi politik. Karenanya, baik partai politik maupun figur calon – calon anggota legislatif belakangan ini sering mencoba melakukan pendekatan dengan cara memperjuangkan isu – isu yang berkenaan dengan anak muda.

 

Menyoal tentang pandangan politik, kedua kelompok anak muda ini terkadang memiliki keyakinan yang berbeda. Anak muda dikenal memiliki kepedulian tinggi terhadap nilai – nilai yang berkaitan dengan keterlibatan sosial dan lingkungan. Maka dari itu, calon pemimpin yang akan dipilihi oleh kedua kelompok demografi ini adalah pemimpin yang mampu menghargai keinginan yang anak – anak muda ini kehendaki dan berupaya untuk dapat memenuhi kebutuhan mereka.

 

Selain itu, sikap juga menjadi faktor yang tak kalah penting dalam kriteria seorang pemimpin di era generasi muda saat ini. Generasi muda cenderung lebih fleksibel terhadap perubahan dan lebih suka bekerja dalam tim. Maka, kepemimpinan yang efektif haruslah memanfaatkan kemampuan para generasi muda untuk bekerja dalam tim dan membangun lingkungan kerja yang positif serta dapat memanfaatkan unsur – unsur teknologi secara tepat sasaran.

 

Teruntuk pemilu tahun 2024 sendiri, dengan jumlah hampir 60% dari total keseluruhan jumlah suara, peran Milenial dan Gen-Z patut dinantikan baik sebagai pemilih, penyelenggara maupun peserta pemilu itu sendiri. Namun permasalahannya, masih ada beberapa kelompok yang menyepelekan peran anak muda dalam pemilu. Keberadaan anak muda bahkan terkadang kurang diakui dan tidak dianggap penting. Salah satu penyebabnya adalah karena kurangnya partisipasi politik dari kalangan anak muda di pemilu yang lalu. Banyak dari anak – anak muda yang merasa tidak tertarik dengan proses politik dalam pemilu yang mengakibatkan mereka belum memberikan suaranya dalam pemilihan. Atas dasar tersebut, perlu adanya edukasi yang lebih mendalam bagi milenial dan Gen-Z di bidang politik, terutama untuk menyongsong Pemilu 2024.

 

Melihat perpolitikan di Indonesia yang masih memiliki kecenderungan mempertontonkan intrik dan konflik yang tidak enak dipandang, ditakutkan malah makin minumbulkan sikap apatis di kalangan milenial dan Gen-Z. Oleh sebab itu, perlu adanya pendidikan politik yang terstruktur bagi generasi muda. Event – event skala kecil, menengah hingga event berskala besar yang dilaksanakan secara berkelanjutan dapat menjadi pilihan bagi partai politik yang menginginkan suara anak muda.

 

Selain itu, pemberitahuan pada setiap ruang publik dengan pemanfaatan media yang tepat juga harus diutamakan, sehingga generasi muda makin banyak yang peduli dan menyadari bahwa politik itu bukan sekedar persaingan mendapatkan suara, tapi tentang bagaimana memberikan suara kita kepada orang – orang yang tepat yang dirasa akan mewakili dan memperjuangkan hak – hak kita kedepannya dan demi masa depan bangsa yang lebih cerah. (Reivaldy Al Furqaan)

Share This Article
Leave a comment